RESUME FONOLOGI
RESUME PERKULIAHAN FONOLOGI
NAMA : Najla Najmatun Nisa
NIM : 1252120046
DOSEN : Bpk. Dr. ahmad Syaeful rahman., CPM, CPArb
EMAIL DOSEN : ahmadsr@uinsgd.ac.id
PRODI : Tadris Bahasa Indonesia
MATA KULIAH : Fonologi
TOPIK : Kedudukan Fonologi dalam Sistem Bahasa
HARI, TGL : Rabu, JAM: 08.00 WIB RUANG: Tatap Maya
1. RINGKASAN MATERI (SUMMARY)
Pada perkuliahan hari ini tepat-nya hari rabu membahas mengenai kedudukan fonologi dalam sistem bahasa, dosen saya juga memaparkan mengenai apa itu fonologi serta yang berkaitan dengan itu Bahasa merupakan alat komunikasi manusia yang memiliki sistem dan aturan tertentu. Dalam kajian linguistik, bahasa dipahami sebagai suatu sistem yang tersusun dari beberapa komponen yang saling berkaitan, yaitu fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Setiap komponen tersebut memiliki perannya masing-masing, namun fonologi menjadi dasar karena berkaitan langsung dengan bunyi bahasa yang menjadi bahan utama pembentukan kata dan kalimat.
Secara etimologis, istilah fonologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu phone yang berarti bunyi dan logos yang berarti ilmu. Oleh karena itu, fonologi dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan oleh alat ucap manusia serta fungsi bunyi tersebut dalam suatu sistem bahasa.
Dalam linguistik, fonologi memiliki kedudukan penting karena bahasa pada dasarnya diwujudkan melalui bunyi ujaran. Bunyi-bunyi tersebut kemudian disusun menjadi kata, frasa, dan kalimat yang memiliki makna. Oleh karena itu, kajian fonologi menjadi dasar dalam memahami struktur bahasa secara keseluruhan.
Menurut Ihsan dan Siagian dalam artikelnya menjelaskan bahwa: “Fonologi merupakan cabang linguistik yang mempelajari bunyi bahasa serta bagaimana bunyi tersebut berfungsi dalam membedakan makna dalam suatu bahasa” (Ihsan & Siagian, 2023, hlm. 623). Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa fonologi tidak hanya mempelajari bunyi secara fisik, tetapi juga mempelajari fungsi bunyi dalam sistem bahasa. Dalam kajian fonologi terdapat dua bidang utama, yaitu fonetik dan fonemik.
1. Fonetik
Fonetik merupakan cabang fonologi yang mempelajari bunyi bahasa berdasarkan cara bunyi tersebut dihasilkan, disalurkan, dan diterima oleh pendengar. Dalam kajian fonetik, bunyi bahasa dipelajari tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut memiliki fungsi pembeda makna atau tidak. Menurut Ihsan dan Siagian: “Fonetik mempelajari bunyi bahasa secara fisik, yaitu bagaimana bunyi itu dihasilkan oleh alat ucap manusia serta bagaimana bunyi tersebut dapat didengar oleh pendengar” (Ihsan & Siagian, 2023, hlm. 624). Sebagai contoh: bunyi /m/ diucapkan dengan menutup kedua bibir dan udara keluar melalui hidung, seperti pada kata mata, makan, dan minum. Bunyi /s/ dihasilkan dengan mendekatkan lidah ke gigi atas sehingga udara keluar melalui celah sempit, seperti pada kata
satu, susu, dan sapu. Dalam fonetik yang diperhatikan adalah cara bunyi dihasilkan, bukan makna kata tersebut.2. Fonemik
Berbeda dengan fonetik, fonemik mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi tersebut dalam membedakan makna. Dalam fonemik dikenal istilah fonem, yaitu satuan bunyi terkecil yang dapat membedakan arti kata. Ihsan dan Siagian menjelaskan bahwa “Fonem merupakan satuan bunyi terkecil dalam suatu bahasa yang mampu membedakan makna kata” (Ihsan & Siagian, 2023, hlm. 625).
Sebagai contoh: kata lima dan rima Perbedaan bunyi /l/ dan /r/ menyebabkan kedua kata tersebut memiliki makna yang berbeda. Contoh lain: kata tari dan dari perbedaan bunyi /t/ dan /d/ juga menghasilkan arti yang berbeda.Contoh tersebut menunjukkan bahwa perubahan satu bunyi saja dapat mengubah makna suatu kata.
Kedudukan Fonologi dalam Sistem Bunyi Bahasa
Dalam sistem bahasa, fonologi memiliki kedudukan sebagai tingkatan pertama dalam struktur bahasa. Hal ini karena semua unsur bahasa seperti kata dan kalimat pada dasarnya tersusun dari bunyi-bunyi bahasa. Dalam artikel mengenai struktur kebahasaan bahasa Indonesia dijelaskan bahwa “Fonologi merupakan bagian dasar dari sistem bahasa karena bunyi bahasa menjadi unsur awal dalam pembentukan kata dan struktur bahasa yang lebih besar” (Artikel Struktur Kebahasaan Bahasa Indonesia, hlm. 4). Hal ini menunjukkan bahwa sebelum membentuk kata, bahasa terlebih dahulu memiliki unsur bunyi yang menjadi dasar pembentukannya.
contoh: bunyi /k/ + /u/ + /d/ + /a/ membentuk kata kuda kata tersebut kemudian dapat digunakan dalam kalimat ”Kuda itu berlari sangat cepat.” Contoh tersebut menunjukkan bahwa bunyi bahasa menjadi dasar terbentuknya kata, kemudian kata tersebut menjadi bagian dari kalimat.
Persukuan Kata (Silabel)
Dalam kajian fonologi juga dikenal istilah silabel atau suku kata, yaitu pembagian kata menjadi beberapa bagian bunyi untuk memudahkan pengucapan. Contohnya kata sekolah → se-ko-lah, kata keluarga → ke-lu-ar-ga. Silabel tidak memiliki makna sendiri, tetapi membantu dalam pengucapan dan struktur bunyi bahasa.
Unsur Suprasegmental
Selain suara yang terbagi menjadi bagian-bagian, fonologi juga mempelajari unsur-unsur yang lebih tinggi, yaitu suara-suara yang terletak di atas satuan suara seperti fonem. Unsur suprasegmental meliputi intonasi, tekanan, durasi, jeda. Unsur tersebut dapat memengaruhi makna suatu ujaran. Contoh: kalimat “Kamu makan.” Jika diucapkan dengan suara datar, berarti itu adalah pernyataan. Jika diucapkan dengan nada naik “Kamu pergi?” berubah menjadi pertanyaan. Ini menunjukkan bahwa suara dalam bahasa tidak hanya terdiri dari fonem, tetapi juga terdapat intonasi serta tekanan suara.
Hubungan Fonologi dengan Cabang Linguistik Lain
Fonologi memiliki hubungan yang erat dengan cabang-cabang linguistik lainnya.
a. Morfologi
pembentukan kata dari morfem. Contoh kata berjalan terdiri dari ber + jalan
b. Sintaksis
mempelajari susunan kata dalam kalimat. Contoh Anak itu membaca buku.
c. Semantik
mempelajari makna bahasa.
Fonologi menjadi dasar bagi ketiga bidang tersebut karena setiap kata dan kalimat pada dasarnya terbentuk dari suara-suara dalam bahasa
2. ISU YANG BERKEMBANG DALAM DISKUSI
Pada diskusi perkuliahan fonologi, terdapat beberapa pertanyaan yang muncul terkait dengan kajian bunyi bahasa.
a. Apakah kondisi teman tuli memengaruhi kemampuan fonologi seseorang?
Dalam diskusi dijelaskan bahwa kondisi teman tuli dapat memengaruhi kemampuan fonologi karena keterbatasan dalam mendengar bunyi bahasa. Kemampuan fonologi biasanya berkembang melalui proses mendengar dan menirukan bunyi ujaran. Oleh karena itu, banyak teman tuli menggunakan bahasa isyarat sebagai sarana komunikasi karena bahasa tersebut tidak bergantung pada bunyi.
b. Apakah tanda baca termasuk unsur suprasegmental?
Tanda baca seperti titik dan koma tidak termasuk unsur suprasegmental. Tanda baca merupakan bagian dari bahasa tulis yang berfungsi membantu pembaca memahami struktur kalimat. Sementara itu, unsur suprasegmental merupakan bagian dari bahasa lisan, seperti intonasi, tekanan, durasi, dan jeda dalam pengucapan.
c. Apakah istilah fonetis–fonemis sama dengan fonetik–fonemik?
Istilah fonetis berkaitan dengan fonetik sehingga maknanya hampir sama. Namun dalam kajian linguistik istilah yang lebih umum digunakan adalah fonetik dan fonemik. Fonetik mempelajari bunyi bahasa secara fisik, sedangkan fonemik mempelajari bunyi bahasa yang berfungsi membedakan makna.
3. SECOND / OTHER OPINION
Menurut Abdul Chaer dalam buku Linguistik Umum, fonologi merupakan cabang linguistik yang mempelajari bunyi bahasa dan fungsi bunyi tersebut dalam sistem bahasa.
Chaer menjelaskan bahwa kajian fonologi mencakup dua bidang utama, yaitu fonetik dan fonemik. Fonetik mempelajari bunyi bahasa secara fisik, sedangkan fonemik mempelajari bunyi bahasa yang berfungsi membedakan makna. Hal ini sejalan dengan pendapat Ihsan dan Siagian yang menyatakan bahwa: “Fonologi mempelajari bunyi bahasa serta hubungan bunyi tersebut dengan makna dalam suatu bahasa” (Ihsan & Siagian, 2023, hlm. 623).
Pendapat tersebut menunjukkan bahwa fonologi memiliki peran penting dalam memahami bagaimana bunyi bahasa bekerja dalam sistem komunikasi manusia.
4. REFLEKSI
Melalui pembelajaran dan diskusi mengenai fonologi, saya memperoleh pemahaman baru bahwa bahasa tidak hanya terdiri dari kata dan kalimat, tetapi juga terdiri dari bunyi-bunyi bahasa yang memiliki sistem dan aturan tertentu.
Saya juga menyadari bahwa perbedaan bunyi yang sangat kecil dapat menyebabkan perbedaan makna kata. Hal ini menunjukkan bahwa bunyi bahasa memiliki peran penting dalam komunikasi.
Selain itu, saya juga memahami bahwa fonologi merupakan dasar dari cabang linguistik lainnya seperti morfologi, sintaksis, dan semantik. Dengan mempelajari fonologi, saya dapat lebih memahami bagaimana bahasa terbentuk dan bagaimana bahasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
5. DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2014. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Ihsan, Raihan Fauzil & Siagian, Irwan. 2023.Pengaruh Fonologi pada Kajian Fonetik dalam Bahasa Indonesia. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 9(23), 621–635.https://jurnal.peneliti.net/index.php/JIWP/article/view/5596/4663Artikel.
Struktur Kebahasaan Bahasa Indonesia sebagai Rujukan Penggunaan Bahasa (Fonologi).
https://journal.aripi.or.id/index.php/Bima/article/view/2134/2337
Komentar
Posting Komentar