Resume ke 2 perkuliahan fonologi

 

 RESUME PERKULIAHAN

 

NAMA                        : Najla Najmatun Nisa

NIM                            : 1252120046

PRODI                        : Tadris Bahasa Indonesia

MATA KULIAH         : Fonologi

DOSEN                       : Dr. Ahmad Syaeful Rahman M.Pd., CPM, CPArB

EMAIL DOSEN         : ahmadsr@uinsgd.ac.id

TOPIK                        :  Hakikat Fonetik; jenis fonetik, jenis alat bicara dan dan terjadinya Fonasi

HARI, TGL                : Selasa, 31 Maret 2026, Jam : 06.50-09.20 WIB RUANG: 11

 

 1. RINGKASAN MATERI (SUMMARY)
 
 
        Fonetik adalah ilmu yang membahasa bunyi bahasa secara fisik tanpa memperhatikan makna yang mana ini merupakan salah satu cabang dalam Linguistik. fonetik menjadi dasar penting dalam kajian linguistik karena semua bentuk bahasa lisan berawal dari bunyi. Hal ini ditegaskan dalam artikel bahwa “fonetik merupakan ilmu yang mempelajari bunyi bahasa tanpa menghiraukan perbedaan makna atau arti” (Hermawan et al., 2021, hlm. 2). Dengan demikian, hakikat fonetik terletak pada upaya memahami bunyi sebagai fenomena alamiah yang dapat diamati secara ilmiah.
        fonetik dibagi menjadi tiga cabang utama, yaitu fonetik artikulatoris, fonetik akustik, dan fonetik auditoris. Ketiga cabang ini saling berkaitan dalam menjelaskan bagaimana bunyi bahasa terbentuk dan dipahami oleh manusia.
Secara lebih rinci, jenis-jenis fonetik dapat dijelaskan sebagai berikut:
  1. Fonetik artikulatoris ( mempelajari bagaimana bunyi dihasilkan oleh alat ucap manusia). Dalam artikel dijelaskan bahwa cabang ini “mempelajari tentang alat-alat ucap dan gerakannya” (Hermawan et al., 2021, hlm. 3).
  2. Fonetik akustik mengkaji bunyi sebagai gelombang suara yang memiliki unsur frekuensi, amplitudo, dan resonansi (Hermawan et al., 2021, hlm. 10–11).
  3. Fonetik auditoris mengkaji bagaimana bunyi diterima oleh telinga dan diproses oleh otak, yaitu melalui getaran yang diteruskan oleh saraf pendengaran (Hermawan et al., 2021, hlm. 11).
        Dalam menghasilkan bunyi bahasa, manusia menggunakan alat bicara yang sebenarnya bukan organ khusus untuk berbicara. Organ-organ tersebut pada dasarnya memiliki fungsi utama lain, seperti pernapasan dan pencernaan, tetapi dimanfaatkan untuk menghasilkan bunyi. Dalam artikel disebutkan bahwa “lebih dari setengah badan manusia dari kepala sampai ke lambung dibutuhkan untuk menghasilkan bunyi bahasa” (Hermawan et al., 2021, hlm. 3).
Alat bicara utama yang berperan dalam produksi bunyi meliputi:
  • paru-paru sebagai sumber udara
  • pita suara sebagai penghasil getaran
  • tenggorokan sebagai saluran udara
  • lidah sebagai pengatur posisi bunyi
  • bibir dan gigi sebagai pembentuk bunyi
  • rongga mulut dan hidung sebagai resonator
        Kerja sama organ-organ tersebut menghasilkan bunyi bahasa melalui proses yang disebut fonasi. Fonasi merupakan proses terbentuknya bunyi bahasa yang diawali dari aliran udara. Dalam artikel dijelaskan bahwa “bunyi bahasa terjadi karena bergetarnya pita suara sebab tertiup udara dari paru-paru yang kemudian diteruskan keluar lewat mulut atau hidung” (Hermawan et al., 2021, hlm. 4). Contoh prosesnya kurang lebih dari udara keluar dari paru-paru kemudian melewati pita suara (bergetar atau tidak) dan dimodifikasi oleh alat ucap (lidah, bibir, dll) yang kemudian menghasilkan bunyi bahasa.
Berdasarkan proses tersebut, bunyi bahasa dibedakan menjadi:
  • vokal (vokoid) ( tanpa hambatan udara )
  • konsonan (kontoid) ( dengan hambatan udara )
(Hermawan et al., 2021, hlm. 4–5)
        Selain aspek biologis dan fisik, fonetik juga dipengaruhi oleh faktor sosial, salah satunya adalah dialek. Dalam artikel Pengaruh Dialek terhadap Fonetik Bahasa Indonesia, dijelaskan bahwa “dialek memiliki pengaruh besar terhadap pengucapan bunyi, intonasi, dan ritme dalam bahasa Indonesia” (Harahap & Al Fatih, 2025, hlm. 49–50).
        Pengaruh dialek terhadap fonetik dapat terlihat dalam beberapa bentuk diantaranya perubahan bunyi vokal (misalnya /ə/ menjadi /e/), penambahan atau pengurangan bunyi, juga perbedaan intonasi dan tekanan kata.
        Selain itu, faktor-faktor yang memengaruhi variasi tersebut meliputi bahasa ibu, lingkungan sosial, dan tingkat pendidikan.
        Bahkan dijelaskan bahwa “perbedaan pengucapan bunyi vokal dan konsonan dipengaruhi oleh dialek lokal seperti Jawa, Sunda, dan Batak” (Harahap & Al Fatih, 2025, hlm. 50). Hal ini menegaskan bahwa fonetik tidak sepenuhnya bersifat universal, tetapi juga kontekstual.
 
2.  ISU YANG BERKEMBANG DALAM DISKUSI
            Setelah pemaparan materi masuklah sesi diskusi, pada sesi ini muncul beberapa pertanyaan tentang isu yang relevan dan menjadi bahan pembahasan bersama. diantaranya:
   a. Bagaimana proses audiotoris pada seseorang yang tuli?
       Jawaban: Dalam fonetik auditoris, bunyi biasanya diproses lewat telinga hingga dipahami otak. Namun, pada orang tuli, proses ini tidak berjalan sempurna. Meski begitu, mereka tetap bisa berbahasa dengan cara lain, seperti membaca gerak bibir, menggunakan bahasa isyarat, atau merasakan getaran suara.
   b. Gangguan pelafalan seperti cadel dan sumbing termasuk jenis fonetik apa?
       Jawaban: Dalam studi fonetik, kasus gangguan pengucapan seperti cadel dan sumbing menjadi objek penting, terutama dalam cabang fonetik artikulatoris, karena keduanya berkaitan langsung dengan cara alat ucap menghasilkan bunyi. kedua hal tersebut masuk kedalam gangguan produksi bunyi ujaran (speech sound disorders) yang berkaitan dengan fonetik artikulatoris.
   c. Perbedaan produksi orang dewasa dan anak?
        Jawaban: Perbedaan bunyi antara anak-anak dan orang dewasa bisa dijelaskan dari fonetik artikulatoris.
        Pada anak-anak, kemampuan berbicara masih berkembang, seperti Alat ucap (lidah, bibir, rahang) belum sempurna, gerakan bicara belum terkontrol dengan baik, pengucapan belum jelas, misalnya huruf R sering jadi L.
Sedangkan pada orang dewasa alat ucap sudah berkembang sempurna, koordinasi bicara sudah stabil, dan pengucapan jelas dan konsisten, serta jarang salah kecuali ada gangguan tertentu seperti sumbing atau gangguan saraf.
   d. Apakah prinsip fonetik akustik ini yang digunakan dalam teknologi modern seperti Voice Recognition (Seperti Google Assistant) untuk mengenali suara manusia?"   
      Jawaban: iyaa, teknologi memang menggunakan kajian fonetik artikulatoris, terutama dalam berbagai sistem yang berkaitan dengan suara dan bahasa manusia, seperti speech recognition dan text-to-speech.
 
3. SECOND/OTHER OPINION
           Fonetik dalam Linguistik umumnya dipahami sebagai ilmu yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan makna, sebagaimana dijelaskan oleh Hermawan et al. (2021). Pembagian fonetik menjadi artikulatoris, akustik, dan auditoris sudah sesuai dengan teori linguistik modern, meskipun penggunaan istilah lain seperti “fonetik organis” kurang umum digunakan.
           Lebih lanjut, berdasarkan Harahap dan Al Fatih (2025), fonetik juga dipengaruhi oleh faktor sosial seperti dialek. Perbedaan pelafalan yang muncul bukanlah kesalahan, melainkan bentuk variasi bahasa. Dengan demikian, fonetik tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga berkaitan dengan aspek sosial dalam penggunaan bahasa.
 
4. REFLEKSI
           Setelah saya mengikuti pembelajaran ini, saya memahami bahwa bunyi bahasa tidak hanya berkaitan dengan alat ucap, tetapi juga melibatkan aspek fisik seperti gelombang suara dan bahkan teknologi. Saya juga menyadari bahwa perbedaan kecil pada getaran pita suara atau posisi lidah sangat memengaruhi kejelasan dalam berbicara. Meskipun pembelajaran dilakukan secara mandiri tidak ada bapak di ruang kelas, namun saya tetap mendapatkan pemahaman baru yang bermanfaat tentang bagaimana bunyi bahasa dihasilkan.
 
5. DAFTAR PUSTAKA
Hermawan, N. F., Kuswoyo, & Nafi’i, W. (2021). Fonetik: Artikulatoris, akustis dan auditoris serta pengajarannya. El Wahdah, 2(1).
https://www.researchgate.net/publication/388966413_Pengaruh_Dialek_terhadap_Fonetik_Bahasa_Indonesia
Harahap, A., & Al Fatih, A. (2025). Pengaruh dialek terhadap fonetik bahasa Indonesia. BLAZE, 3(1), 48–58.
https://ejournal.kopertais4.or.id/mataraman/index.php/elwahdah/article/download/4491/3256?utm_source

 


 


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESUME FONOLOGI