Tugas Opini Pbak 2025
Nama : Najla Najmatun Nisa
Kelompok : 09 (Fatimah AZ- Zahra)
Jurusan : Tadris Bahasa Indonesia
Anak Muda Menganggur, Negara ke Mana?
Indonesia adalah negara yang kaya sumber daya
dan sedang menikmati bonus demografi. Tapi ironisnya, jutaan anak muda justru
menghadapi jalan buntu dalam hal pekerjaan. Pada 2025, jumlah pengangguran
tercatat mencapai 7,28 juta jiwa, dengan Tingkat Pengangguran Terbuka
(TPT) sebesar 4,76%, dan diperkirakan meningkat menjadi 5%,
menjadikan Indonesia salah satu dengan tingkat pengangguran tertinggi di Asia.
Ini bukan sekadar masalah angka. Ini tentang
harapan yang pupus, masa depan yang kabur, dan sistem yang gagal memberikan
jawaban.
Kesenjangan
Keterampilan dan Dunia Industri
Setiap tahun, jutaan lulusan SMK dan perguruan
tinggi keluar dengan ijazah di tangan—tapi tidak dengan pekerjaan. Data
menunjukkan TPT lulusan SMK mencapai 9,31%, sementara lulusan
universitas 5,25%. Ini menjadi bukti bahwa kesenjangan antara
keterampilan yang dimiliki lulusan dan kebutuhan industri (skills mismatch)
masih sangat tinggi.
Ironisnya, banyak perusahaan justru
mengeluhkan sulitnya mendapatkan tenaga kerja yang sesuai. Pekerjaan ada,
pencari kerja ada, tapi mereka tidak saling menemukan. Ini bukan kesalahan
individu, tapi sistem pendidikan yang belum menyesuaikan diri dengan perubahan
zaman.
PHK dan
Ketidakpastian Sektor Informal
Tekanan global memperparah keadaan. Gelombang
PHK melonjak hingga 460% di awal 2025, terutama di sektor tekstil dan
manufaktur. Sementara itu, mayoritas tenaga kerja terserap di sektor
informal—tempat di mana pekerjaan tidak stabil, upah rendah, dan tak ada
jaminan sosial.
Artinya, meskipun angka pekerja meningkat,
kualitas pekerjaan tetap memprihatinkan. Ini seperti menampung air dengan
keranjang—tampak sibuk tapi tak menyelesaikan masalah.
Dampak
Ekonomi dan Sosial
Pengangguran bukan hanya merugikan individu,
tapi mengancam stabilitas nasional. Daya beli masyarakat menurun,
padahal konsumsi rumah tangga adalah penggerak utama ekonomi. Ekonom
Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menyebut bahwa ini bisa menghambat
pertumbuhan PDB secara serius.
Di sisi lain, potensi meningkatnya
kemiskinan, kriminalitas, dan ketidakpuasan sosial menjadi bom waktu.
Investasi masuk, tetapi belum cukup menyerap tenaga kerja dalam skala
besar (Rizal Taufiqurrahman, Indef). Sementara itu, rendahnya penciptaan
lapangan kerja semakin menambah beban fiskal negara (Teuku Riefky, LPEM FEB
UI).
Apa yang
Harus Dilakukan?
Langkah tambal sulam tak akan cukup. Indonesia
membutuhkan reformasi besar:
- Kurikulum pendidikan harus diselaraskan dengan kebutuhan industri, bukan sekadar mengejar gelar.
- Pelatihan kerja harus berbasis praktik nyata, bukan sekadar formalitas.
- Sektor padat karya harus dikembangkan kembali, bukan ditinggalkan atas nama efisiensi.
- UMKM dan ekonomi digital harus didorong sebagai tulang punggung
penciptaan kerja.
Pertumbuhan ekonomi harus inklusif. Jika
tidak, angka-angka bagus di kertas hanya akan menjadi ilusi bagi mereka yang
masih mengantre pekerjaan.
Menutup
Jalan Menuju Krisis
Masalah pengangguran adalah masalah
sistemik, bukan hanya soal individu yang "kurang usaha". Kita
menghadapi situasi di mana banyak yang siap bekerja, tapi tidak diberikan
kesempatan yang setara.
Jika tidak segera dibenahi, pengangguran
bisa berubah menjadi krisis sosial—mengancam kepercayaan publik terhadap
institusi, merusak stabilitas, dan menyulut konflik.
Saatnya negara hadir secara nyata—bukan hanya
dalam bentuk pertumbuhan ekonomi makro, tapi dalam lapangan kerja yang bisa
dirasakan rakyat secara langsung.
Komentar
Posting Komentar